Pagi
yang indah sekali di kota bogor. Matahari bersinar cerah menimpa pohon pohon
cemara yang keihatan hijau berkilat. Puncak Gunung Salak muncul diatas
warna-warna hijau kebiruan alam sekitarnya. Langit sangat bersih, biru cerah,
menjadi latar belakang yang menonjolkan kegagahan gunung itu.Pemandangan yang sangat
indah itu membawa kenangan lama saya. Terlintas dibenak saya masa-masa kecil
ketika saya masih tinggal di kota ini. Sungguh pemandanganyang sangat indah
yang saya rindukan selama saya kota metropolitan ketika saya sudah
besar.Keindahan alam pagi ini saya potret dari beberapa sudut.
Selesai
memotret, saya menoleh berkeliling dan menangkap sosok wanita yang ayu berjalan
menghampiri saya. Segera saja saya arahkan bidikan kamera kearah tubuh wanita
nan ayu tersebut.Cepat-cepat saya bidikan lensa kearahnya, melalui lensa, saya
melihat paras wanita nan ayu tersebutt dengan pakaian yang sangat sederhana,
dengan sebuah baskom yang berada di kanan pinggangnya yang dikaitkan dengan
kain diarahkan ke pundaknya yang warnanya agak sudah pudar. Meski wajahnya yang
ayu namun tidak tampak kesegaran yang terpancar dari wajahnya yang masih muda
tersebut. Ia bahkan tidak perduli, memandang dengan mata yang kosong kearah
depan. Berkali-kali saya bidik potretan kearahnya namun ia tidak menyadari nya
sama sekali.
“Dicicip neng,gorengan nya atuh masih
anget” katanya sambil mengangkat baskom dari kain gendongannya. Dibalik daun
pisang penutup baskom itu terlihat beberapa jenis gorengan yang masih hangat,
bala-bala atau bakwan yang masih hangat dengan sayuran yang terdapat didalmnya
dengan aroma yang gurih menimbulkan selera. Saya langsung mengambilnya dan
segera mencicipinya. Pada suatu saat, saya merasa bahwa wanita tersebut sedang
memperhatikan saya. Saya menengok kearahnya. Betul saja. Dia menatap
saya.“Caca,ya ?” katanya sambil menunjuk kearah saya dengan ibu jarinya. Saya
kaget dari mana dia tahu sapaan saya diwaktu kecil. Didalam hati saya
bertanya-tanya siapakah dia? Dari mana dia tahu nama kecil saya? Rasanya saya
tidak mengenali dia.”Ayolah, caca seharusnya anda tidak melupakan saya,”
sambungnya dengan suara lirih, sambil menundukan kepalanya..Saya amati wajahnya
dalam-dalam saya berusaha mengingatnya. Pelan-pelan terasa bahwa saya pernah
mengenalnya namu lupa akan namanya. “Anda tidak mengingat siapa saya ? saya
sarah”
Saya teringat oleh sosok teman sekolah
semasa saya SD. Seingat saya Sarah adalah murid yang sangat pandai dan cerdas.
Dia merupakan Rival saya dalam hal pelajaran, banyak orang yang memuji karna
kepintarannya. Tapi hal apa yang terjadi padanya?
Lama kami berdiam. Setelah beberapa lama
saya mencoba beranikan membuka diri untuk percakapan untuk memecahkan kesuyian
yang ada dengan bercerita pengalaman saya. Saya bercerita bahwa saya sedang
mengikuti acara perkemahan di Gunung Salak.dipertengahan pembicaraan sarah
memotong pembicaraan dengan berkata “ kamu enak ya hidup serba kecukupan dapat
melanjuti pendidikan, pekerjaan yang enak. Tidak seperti saya” sahutnya. “
setelah lulus sekolah menengah pertama bapak saya meninggal,ibu sakit-sakitan
saya pun tidak dapat melanjuti sekolah dan harus bekerja untuk mencari uang
mengidupi ibu dan dua orang adik saya. Impian dan semua cita-cita saya terhenti
semenjak itu dan berubah. Kehidupan saya berubah semuanya tujuan hidup saya pun
berubah, sekarang tujuan hidup saya hanya ingin membuat ibu sembuh serta dapat
menyekolakan kedua adik saya agar cita-cita mereka dapat terwujud, tidak
seperti saya” mendengar semua ucapan sarah hati saya pun tersentuh gorengan
yang saya makan pun seolah tak mau tertelan hanya mampu berdiam didalam mulut
saya. Setelah itu sarah pamit mau melanjutkan berjualan saya pun mengeluarkan
beberapa uang untuk membayar gorengan dan sisanya untuk saya berikan kepada
sarah. Sarah beranjak pergi.
Semenjak kejadian itu saya pun belajar
untuk mengahargai dan mensyukuri segala hal yag saya punya.sejuk nya suasana di
kota bogor pun semakin sejuk. Setelah kepergian saya dari kota itu saya selalu
mengingat sarah ketia saya melihat wanita yang berjualan gorengan dipinggir
jalan. Sungguh malang nasib sarah meskipun pintar ia tidak dapat melanjutkan
cita-citanya, mencari pekerjaan pun sulit karena ijazahnya hanya sebatas ijazah
smp. Namun perjuangan nya untuk membahagiakan keluarga nya sangatlah besar.
Karya : Anisah Rani
Karya : Anisah Rani

1 komentar:
Terimakasih atas gambarannya