Aku menutup pintu
kamar. Ku rebahkan tubuhku di kasur busa di tempat tidur. Mengambil HP dan
memutar lagu Maudy Ayunda, Perahu Kertas. Aku sangat menyukai lagu itu. Itu
salah satu lagu kenangan bersama sahabat ku, Casella. Ku harap aku bisa bertemu
lagi dengannya. Tapi aku tahu itu tidak mungkin. Aku tahu dia sudah behagia
disana, itu yang selalu dia katakan padaku sebelum meninggal 2 tahun yang lalu.
“Aku ingin segera menemui Ibu dan ayahku. Aku rindu suara ibuku, aku rindu
ketika dia menyanyikan sebuah lagu pengantar tidur untuk ku. Aku menyesali
setiap detik dalam hidupku, saat aku bersikap tak bersikap baik, saat aku
membuat ibuku menangis.” Casella selalu mengatakan itu setiap hari. Setiap kita
bermain di gubuk dekat pantai. Dia sahabat baik ku, 10 tahun kita bersama, dan
hanya waktu yang bisa memisahkan kita.
Casella dan aku
suka bermain di pantai, bertingkah seolah kita adalah petualang yang hebat,
seolah kita sudah pernah mengelilingi dunia. Kita bahkan pernah diam-diam
menyelinap di perahu salah seorang nelayan saat malam hari. Ya, saat aku
menginap di rumah Casella dan tiba-tiba Casella mempunyai ide itu. Tindakan
kita itu membuat semuanya panik. Keluargaku, Ayah dan Ibu Casella, juga nelayan
pemilik perahu yang diam-diam kami tumpangi itu. Ia mengira kami adalah jin
yang menunggui laut selatan pulau Jawa, sampai akhirnya kami menjelaskan awal
mula bisa di situ dan nelayan itu menanyai siapa orangtua kami. Bersyukurlah,
nelayan itu bekerja di perusahaan milik ayah kami. Jadi kami tidak perlu
panjang lebar untuk menjelaskan semuanya. Menjelaskan tentang asal-usul kami,
dan menjelaskan bahwa kami bukanlah jin, setan, siluman, dan sejenisnya. Dan
saat akan mengantarkan kami pulang, Casella malah menangis dan meminta nelayan
itu menemani kami berkeliling melihat indahnya lautan sampai pagi.
Aku tidak tahu apa
yang ada di pikiran Casella. Padahal saat itu kita masih berumur 10 tahun. Aku
tidak bisa, dan tidak akan melupakan itu. Dan sejak kejadian itu, orangtuaku
dan orang tua Casella lebih ketat dalam menjaga kami. Kami juga dilarang pergi
jauh-jauh, apalagi ke pantai. Akhirnya dengan terpaksa aku dan Casella
mengganti permainan kami, yang biasanya berpetualang, menjadi bermain dengan
tuhan. Kami menjadi lebih sering bermain di sungai. Membawa kertas, melipatnya
menjadi sebuah perahu, dan membawanya berlayar di sepanjang sungai. Selain itu,
kami juga suka menerbangkan balon yang bertuliskan harapan kami. Memang aneh,
aku dan Casella melakukan itu, dengan harapan Tuhan akan membaca surat kami,
dan akan mengabulkannya. Kami selalu bersama, kapanpun dan dimanapun. ayahku
dan ayah Casella bekerja sama dalam menjalankan perusahaan pengelola sumber
daya alam dan itu sudah terjalin selama 8 tahun dan kerja sama itu saling
menguntungkan. Itu menjadi alasan mengapa aku dan Casella sudah saling mengenal
sejak kecil.
Liburan pun kita
selalu bersama. Pernah suatu hari, saat liburan kenaikan kelas, dan ayah
mengajakku berlibur ke rumah nenek, Casella menangis setiap mengingatku, dan
tidak ada yang bisa menghentikan tangisnya. Ibu bilang, Casella mengira bahwa
aku akan pergi selama-lamanya dan tidak akan kembali ke rumah lagi, hingga
akhirnya pada hari ke 4 liburan, orangtua Casella mengantarkan Casella ke rumah
nenek ku, untuk bertemu denganku. dan kita berlibur bersama.
Kita selalu
mempunyai pengalaman yang indah, menakjubkan, dan aneh. Itulah mengapa aku
benar-benar merasa kehilangan Casella saat ia meninggal. Dia sudah seperti
keluaraku sendiri. Orang lain bilang kalau kita itu saudara kembar yang beda
ayah dan ibu.
Aku ingat, aku
ingat saat ulang tahun terakhir Casella saat dia berusia 13 tahun. Tanggal 20
April Saat dia minta kepada pamannya untuk mengadakan pesta besar-besaran untuk
pertama dan terakhir kalinya. Mulanya aku tidak tahu apa maksud permintaan
pertama dan terakhirnya itu, aku begitu tidak perduli, sampai tidak tahu apa
yang sebenarnya terjadi. Aku tidak tahu bahwa Casella menderita penyakit kanker
stadium akhir, dan dokter sudah menyerah dalam menangani itu. Ya Tuhan! Betapa
jahatnya aku. Kenapa aku begitu mudah percaya saat Casella bilang bahwa dia
sudah sembuh dari penyakitnya. Kenapa aku begitu percaya bahwa operasi
terakhirnya itu berhasil? Kenapa aku begitu mudah tertipu dengan kondisi fisik
Casella yang terlihat baik-baik saja itu? Padahal sebenarnya, aku yakin Casella
menahan sakit, mencoba bertahan mati-matian. Aku memang bukan sahabat yang
baik.
Dan kesempatan
terakhirku bisa berbicara panjang pada Casella adalah malam setelah acara ulang
tahun terakhirnya. Kita berada di kolam renang belakang rumah Casella. Bercanda
tanpa memikirkan beban dan keadaan sebenarnya pada saat itu. Memberitahu bulan
bahwa hari itu adalah hari yang paling membahagiakan dalam hidup kami. Setiap
kata sangat berarti hari itu. Casella menceritakan semua keajaiban dalam
hidupnya, tentang orangtuanya, masa kecilnya, dan impian-impiannya dulu saat
masih ada ayah dan ibunya. Casella juga memberitahuku doa di ulang tahunnya
yang ke 13 itu. Aku sangat terkejut ketika Casella berkata dia ingin Tuhan
segera mempertemukan Casella dengan ibunya. Tapi aku tidak menebak, karena
tidak mungkin jika malaikat segera menjemput nyawa Casella. Aku tidak tahu
bagaimana, tapi kurasa alam sangat menyayanginya. Alam memberikan malam
terakhir yang indah untuk Casella. Bintang bertaburan menghiasi langit. Bulan
sabit seolah tersenyum pada Casella, yang ingin menikmati malam terakhirnya.
Paginya, hari
Jum’at, jam setengah 5 pagi. Mama memberitahuku tentang berita duka
meninggalnya Casella. Aku sama sekali tidak percaya dan mengatakan bahwa
semalam aku masih berbicara pada Casella. Tapi mama memberitahuku lagi. Bahwa
itu memang benar. Seluruh tubuhku lemas. Air mata tidak lagi bisa terbendung,
sambil menangis aku mengambil sepedaku di garasi dan mengayuhnya menuju rumah
Casella yang hanya berjarak 300 m dari rumahku. Aku merobohkan sepedaku. Aku
tidak perduli, aku ingin melihat Casella, memastikan bahwa mama bohong,
memastikan Casella, sahabat baik ku masih hidup. Tapi apa daya. Tidak ada lagi
yang bisa aku lakukan. Sudah ada banyak orang di kamar Casella. Paman bibinya
disana sambil menangis. Aku berjalan pelan, dan semua orang memandangi ku.
Memberi jalan untuk aku lewati. Aku menyentuh kening Casella. Oh tuhaann!!! Dia
benar-benar sudah tidak bernyawa. Badanku seketika melemah. Lagi-lagi air
membanjiri pipiku. Casella!! Kenapa secepat ini?!
Aku mematikan lagu
yang kumainkan, menengok jam dinding biru di atas meja belajarku. Sudah jam
tujuh malam, dan itu artinya sudah tiga jam aku memutar lagu itu. Waktu sangat
cepat berlalu. Aku buru-buru bangun dari tidurku dan menghampir mama yang
ternyata sudah memanggilku dari tadi. Mentatap foto di atas meja. “Casella, aku
akan membawa mewujudkan mimpi-mimpi kita! Aku akan berjuang Casella! Dan suatu
saat nanti, aku akan bertemu dengan mu di surga” kataku sungguh-sungguh.
Karya Ayunia Sari
