Kita Yang Tak Sama


Kita Yang Tak Sama


Hari ini menjadi hari yang sangat membuatku rapuh dan sakit. Entah ada angina apa tiba-tiba saja dia dengan tega memutuskan hubunganku dengannya. Seketika hatiku hancur dan membuatku tak bisa berkata apapun. Aku berpikir apa yang salah denganku hingga dia dengan tega melakukan itu. Hatiku berkata aku tidak boleh larut dalam kesedihan ini terus menerus.
Tiba-tiba dia, lelaki yang telah aku kenal baik selama ini datang. Dia Anggara kakak kelasku yang memang kita sudah berteman lama. Dia datang menghiburku.
“kamu kenapa La?” tanyanya.
“aku tidak apa-apa kok, cuman lagi galau aja hehe.” Jawabku sambil memaksa seulas senyum.
“galau kenapa lagi sih La?”Tanya dia.
“ada deh. Mau tau aja sih Ga.” Jawabku sambil bercanda.
“kamu putus ya sama Radit?”
“kok kamu tau Ga?”
“ya tau lah La. Apa sih yang aku enggak tau dari kamu.”
“yee bisa aja kamu Ga.”
                “eh aku bisa bikin kamu enggak sedih lagi.” tawarnya serius.
                “mana coba kalo bisa.”
                “tapi janji dululah sama aku.”
                “janji apa Ga?”
                “janji jangan inget-inget si Radit itu terus jangan hubungin dia lagi.”
                “iya aku janji deh Ga.”
                                                                                                
Ternyata perkataan  Anggara itu belum terbukti. Seminggu setelah obrolan itu, Anggara berubah. Dia tidak pernah lagi memberiku kabar dan seolah-olah dia menjauh dariku. Disekolah pun dia seperti tidak mengenalku, aku bingung mengapa tiba-tiba dia seperti itu. Tapi hari ini aku kekelasnya, aku ingin meminta penjelasannya.
“Ga, aku mau ngomong sama kamu.” Bentakku didepan wajahnya.
“Ada apa La?” tanyanya pura-pura tidak tau.
“Kemana a ja kamu selama seminggu ini? Udah kayak ditelan bumi aja kamu. Jarang banget hubungin aku. Ketemu aku juga kamu kayaknya menghindar gitu. Ada apa sebenarnya?”
“Aku sibuk.” Jawabnya singkat.
“Aku tau sebentar lagi kamu ujian tapi emang harus banget ya kamu menghindar dari aku?”
“Aku masuk kelas duluan La. Mau ada ujian aku belum belajar. Kalo mau lanjutin nanti aja.”
“Enggak usah. Mulai hari ini jangan hubungin aku lagi. makasih.”
                                                                                
                Tepat hari ini satu bulan Anggara tidak memberiku kabar. Aku seperti tidak kenal sama dia. Terserahlah itu kemauannya, aku sudah tidak mau berurusan lagi dengannya. Rasa sayangku padanya seketika hampir hilang. Hari ini hari terakhir dia ujian, walaupun aku tidak mau peduli padanya lagi tetapi aku tetap mendoakannya agar lancer mengerjakan ujian. Tiba-tiba saja handphoneku berdering, aku lihat tulisan dilayar ternyata nama Anggara. Dia menelponku.
                “Halo?” jawabku singkat.
                “Bisa ketemu sebentar La?”
                “Mau ngepain?”
                “Mau ngomong bentar. Aku jemput kamu dirumah ya.”
                “Enggak usah. Ketemu di taman aja.”
                “Yaudah La.”
                Ada apa dengan dia tiba-tiba ngajak ketemu. Tetapi aku penasaran apa yang sebenarnya yang ingin dia bicarakan denganku. aku mengganti baju dan pergi ketaman. Sesampainya di taman, Anggara sudah duduk dibawah pohon yang rindang. Memang cuaca hari ini sangat panas.
                “Ada apa?” tanyaku ketika sudah berada disampingnya.
                “Duduk dulu La.”
                “Ada apa?” tanyaku lagi ketika sudah duduk disampingnya.
                “Aku minta maaf La.”
                “Minta maaf untuk apa?”
                “Aku minta maaf karna udah jauhin kamu.”
                “Oh.” Jawabku singkat.
                “Aku tau La, aku salah. Aku nyesel udah ngehindar dari kamu. Kamu mau kan La maafin aku?”
                “Iya aku maafin kamu Ga.”
                “Beneran La?”
                “Iya Ga.”
                Entah ada apa denganku, bisa-bisanya dengan gampang memaafkannya. Padahal dia sudah membuatku kesal.
                                                                                                
                Hari ini disekolahku ada Pentas Seni dan pengisi acaranya berasal dari siswa dan siswi. Anggara termasuk menjadi pengisi acara tersebut. Anggara naik keatas panggung dengan membawa gitar akustik kesayangannya, dan aku baru lihat ternyata di gitar tersebut ada inisial namaku “LGP” yaitu Lila Gladia Putri. Aku kaget melihatnya. Aku menonton Anggara dibarisan tengah penonton karena bagian depan sudah dipenuhi anak kelas 3.
                “Lagu ini saya persembahkan buat wanita yang paling saya sayang. Dan tepat pada hari ini dia ulang tahun. Lila Gladia Putri kelas 2 IPA 4.” Kata Anggara.
                Seketika jantungku berdegup kencang, orang-orang menoleh ke arahku. Aku kaget mendengar perkataan Anggara. Dia menyanyikan lagu kesukaanku ‘Coldplay-Fix You’. Selama dia menyanyikan lagu itu aku tidak berhenti tersenyum dan menikmati suaranya yang begitu lembut. Selesai dia bernyanyi, dia tidak langsung turun dari panggung.
                “Lila, bisa maju kepanggung sebentar?” tanyanya melalui microphone.
                Panitia dari pensi tersebut langsung memberikan jalan untukku menuju panggung. Ada apa ini mengapa aku menjadi gugup jantungku juga berdegup sangat kencang. Anggara apa yang akan kamu lakukan.
                “Selamat Ulang tahun La!” katanya sambil memberikan bunga mawar merah yang banyak ketika aku sudah diatas panggung.
                “Terima kasih Ga.” Jawabku sambil mengambil bunga itu.
                “Ada yang ingin aku omongin sama kamu.” Katanya serius.
                “ngomong apa Ga?” tanyaku bingung.
                “Aku sayang sama kamu La, kamu mau enggak jadi pacar aku?” kata Anggara sambil berlutut didepanku.
                “Ih kamu apa-apain sih Ga.”
                “Terima… Terima… Terima…” teriak semua penonton yang membuatku malu.
                “Kamu mau kan La jadi pacar aku?” tanyanya lagi.
                “Hmm… iya Ga aku mau.” Jawabku.
                “Makasih La.” Katanya sambil memelukku.
                                                                                                
                Seusai Anggara tampil, dia mengajakku duduk bangku didepan kelasnya. Dia mengajakku bercanda, mengobrol dan sambil menonton beberapa murid-murid yang tampil. Aku senang berada disampingnya dan menjadi kekasihnya. Walaupun dulu aku sempat kesal padanya tapi perubahannya saat ini sangat membuatku terkesan.
                “La nanti kamu pulang sendiri atau mau bareng aku?” tanyanya.
                “Hhm… bareng kamu aja deh Ga. Aku enggak bawa kendaraan hari ini.”
                “Yaudah lagi pula nanti acara selesai udah malem juga. Enggak baik perempuan secantik kamu pulang sendirian.” Godanya.
                “Kamu nih gombal aja bisanya.” Kataku sambil memukul manja bahunya.
                “Lho, kamu emang beneran cantik La. Kamu mah enggak nyadar sih.” Katanya lagi.
                “Iya deh Ga terserah kamu aja. Ya aku mah apa sih Ga.” Kataku sambil tersenyum masam.
                “Yeh ngambek deh kamu mah baperan sih La. Eh tapi aku tetep sayang sama kamu kok La sayang banget malahan.” Godanya lagi.
                “Baper apa sih Ga? Kamu nih gombal aja bisanya.” Tanyaku.
                “Bawa Perasaan La, enggak gaul nih kamu.” Katanya sambil mengusap kepalaku.
                “Iya Ga aku mah apa sih.” Kataku.
                Jam sudah menunjukkan pukul 19.00 WIB, acara pun sudah selesai. Para murid-murid sudah mulai pulang kerumahnya masing-masing, begitu pula dengan aku dan Anggara. Aku masuk ke mobil Anggara dan dia mulai mengendarai mobilnya menuju kerumahku yang lumayan jauh dari sekolah. Sepanjang perjalanan aku dan Anggara terus mengobrol dan bercanda. Dan tiba-tiba saja wajah Anggara mulai muram.
                “Kamu kenapa Ga? Kok muram gitu?.” Tanyaku.
                “Hhm… La aku mau minta izin sama kamu. Nanti abis kelulusan aku mau daftar jadi tentara dan pendidikannya itu satu tahun. Kemungkinan aku enggak bisa memegang Handphone.” Jelasnya.
                “Oh yaudah Ga, itu kan cita-cita kamu. Kejarlah cita-citamu sampai sukses Ga. Aku bakal nemenin kamu sampai sukses.” Kataku menahan rasa sesak dihatiku.
                “Beneran La? Aku sayang sama kamu La.” Katanya sambil merangkulku.
                Sesampainya dirumahku, dia turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untukku. Aku turun dan mengucapkan terima kasih padanya, lalu dia melambaikan tangan kepadaku dan masuk ke mobilnya. Aku melambaikan tangan kepadanya dan mengucapkan hati-hati. Mobilnya melaju meninggalkan rumahku, tiba-tiba air mataku menetas. Cepat-cepat aku menghapus air mataku dan masuk kerumah.
                Aku masuk kamar dan langsung menuju kekamar mandi. Aku membersihkan diri, mencuci muka, menggosok gigi dan mengganti bajuku. Setelah itu, aku berbaring di tempat tidurku melepas lelah setelah acara tadi. Tiba-tiba muncul dipikiranku kalau aku dan Anggara berbeda. Berbeda dalam arti keyakinanku dengannya, agama kita berbeda. Sebelumnya aku tidak memikirkan ini terlebih dahulu, aku memulai hubungan ini dengan satu kesalahan. ‘Sungguh aku menyayangi, mungkin aku jalani saja dulu hubungan ini.’ Kataku dalam hati. Tiba-tiba saja handphoneku berdering telpon dari Anggara. Aku mengangkat telponnya sambil menghapus air mataku.
                “Halo?” kataku dengan suara serak.
                “Kamu kenapa La? Kok suaranya agak serak gitu? Kamu sakit?” tanyanya dengan suara yang kkhawatir.
                “Aku enggak apa-apa kok Ga. Cuman kurang minum aja nih tapi aku sudah minum kok tadi. Kamu udah sampe rumah Ga?” jawabku.
                “Oh yaudah La, istirahat dulu sana. Udah kok La, baru aja sampai.” Katanya.
                “Oh bagus deh Ga, yaudah aku tidur duluan ya Ga.” Kataku dengan suara serak.
                “Yaudah La, selamat malam ya.”
                “Iya, selamat malam juga ya Ga.”
                                                                                                
                Sudah 5 bulan hubunganku dengan Anggara berjalan dengan lancar tanpa kendala apapun. Dan hari ini, Anggara pergi untuk menjalankan pendidikannya. Aku datang kerumahnya untuk mengucapkan selamat tinggal. Tetapi sesampainya dirumah Anggara, kedua orang tuanya melihatku seperti tidak menyukaiku. Tatapannya tajam dan tidak bersahabat tetapi aku membalas dengan senyum.
                “Ga, jaga diri baik-baik ya.” Pesanku kepadanya.
                “Iya La, kamu juga ya. Jangan bandel.” Katanya.
                                                                                                
                Setelah itu, mulailah hari-hariku tanpa kabar dari Anggara. Beberapa bulan kemudian, orang tua Anggara memintaku untuk kerumahnya. Aku bingung mengapa aku diminta untuk kerumahnya. Beberapa jam kemudian, sampailah aku dirumah Anggara dan didepan pintu sudah ada ibunya dengan wajah yang tidak bersahabat tetapi aku balas dengan senyum. Aku tidak mau dianggap tidak baik oleh kedua orang tuanya. Aku menghampiri ibunya dan member salam kepadanya. Lalu aku dipersilahkan masuk, di ruang tamu sudah ada ayah Anggara.
                “Kamu Lila?” Tanya ayah Anggara dengan suara yang agak berat.
                “Iya om, ada apa ya tiba-tiba saya disuruh datang?” kataku dengan suara yang tenang.
                “Kamu pacarnya Anggara? Sudah berapa lama?” Tanya Ayahnya dengan nada suara agak tinggi.
                “Hm… iya om. Baru 10 bulan.” Kataku masih dengan nada yang tenang.
                “Kamu tau apa yang beda dari kalian berdua?” tanyanya mengejutkanku.
                “Iya om, saya tau agama saya dengan Anggara berbeda.” Kataku dengan suara lirih.
                “Kalau kamu tau, kenapa kamu melanjutkan hubungan ini? Kalau kalian terus melanjutkan hubungan ini kamu tau apa resikonya kan.” Jelasnya.
                “Iya om saya tau. Lalu saya harus gimana om?” tanyaku.
                “Saya minta sama kamu. Jauhin anak saya dan lupakan anak saya. Saya yakin kamu akan dapat yang lebih baik dan seiman sama kamu. Kalau dia pulang dan menemuimu langsung saja putuskan hubungan kalian.” Katanya membuat nafasku sesak.
                “Baiklah  kalau itu maunya om dan jika itu memang yang terbaik akan saya turutin.” Kataku sambil menahan air mata.
                “Oke, saya harap kamu benar-benar melakukannya.” Katanya.
                “Iya om. Kalau gitu saya pamit pulang dulu. Permisi.”
                Aku keluar dari rumah Anggara menahan air mataku tetapi air mataku tiba-tiba mengalir sangat deras membuat dadaku sesak. Karena mulai hari ini, aku akan mulai menghilangkan rasa sayangku dengan Anggara dan melupakannya. Ini resiko yang sudah aku tau sebelumnya tetapi dengan bodohnya aku melakukannya. Maafin aku Anggara karena aku menerimamu masuk kedalam hatiku.
                                                                                                ***
                Hari ini, Anggara pulang. Aku duduk diruang TV sambil menonton film kartun kesukaanku tetapi aku tidak benar-benar menontonnya. Pikiranku melayang kemana saja. Aku belum bisa melupakan Anggara walaupun sudah beberapa bulan sejak kejadian dirumah Anggara. Tiba-tiba bel rumahku berbunyi, dengan langkah kaki yang agak lemas aku membuka pintu. Ternyata Anggara datang dan membuatku terkejut.
                “Hai La, aku kangen banget sama kamu. Udah setahun kita enggak ketemu.” Katanya sambil tersenyum dan aku hanya bisa terdiam.
                “Kamu kok diam saja La? Kamu enggak seneng aku datang?” katanya lagi.
                “Ga, mendingan kamu pulang deh.” Kataku.
                “Lho kenapa La?” tanyanya bingung.
                “Sekarang kamu lupain aku dan jangan pernah nemuin aku lagi. mulai hari ini kita putus Ga.” Kataku sambil menahan air mata.
                “Hah? Ada apa sama kamu La? Kenapa kamu tiba-tiba mutusin aku?” katanya.
                “Ga, kita enggak bisa ngelanjutin hubungan ini. Aku takut semakin lama hubungan ini kita jalanin semakin susah kita berpisah. Memang dari awal hubungan ini itu salah Ga. Kita beda agama. Kita enggak mungkin bersatu Ga.” Jelasku.
                “Kita bisa bersatu La. Kita pasti bisa.” Katanya tidak terima dengan penjelasanku.
                “Enggak bisa Ga. Aku enggak bisa ngorbanin agamaku buat kamu. Aku lebih sayang sama penciptaku daripada sama ciptaan-Nya. Kamu bisa kok Ga cari yang lebih baik dari aku dan seagama sama kamu.” Kataku.
                “Tapi La, aku sayang sama kamu. Lagi pula umur kita baru 19tahun. Pernikahan juga masih lama. Apa salah kalo kita jalani hubungan ini dulu?” katanya lagi.
                “Salah Ga salah besar. Makin lama kita jalanin hubungan ini makin susah juga kita buat pisah. Justru karena pernikahan masih lama jadi kamu bisa cari calon istri kamu yang bisa ngerti kamu. Kita bisa jadi sahabat kaya dulu kok Ga.” Kataku dengan air mata yang sudah menetes.
                “Tuh La kamu nangis. Kamu pasti juga gak mau ngeakhirin hubungan ini kan.” Katanya sambil memegang pundakku.
                “Iya Ga jujur aku juga enggak mau ngeakhirin hubungan ini tapi emang ini yang harus kita lakuin. Kita enggak bisa terus ngejalanin hubungan ini. Perbedaan agama yang udah misahin kita. Agama penting bagiku Ga.” Kataku sambil menghapus air mata.
                “Oke, aku nyerah. Aku juga enggak bisa ngelawan kalau sudah masalah agama. Tapi aku boleh menemuimu kan? Aku tidak bisa jika tidak menemuimu La.” pintanya.
                “Hm baiklah kamu boleh menemuiku tetapi tidak boleh sering-sering.” Kataku.
                “Kenapa tidak boleh sering-sering?” tanyanya.
                “Karena kita bukan lagi sepasang kekasih dan teman tidak harus ketemu setiap hari kan?” kataku.
                “Hm yaudah deh La, aku ngalah aja sama kamu. Tapi aku sayang kamu La.” Katanya sambil mengusap kepalaku.
                “Hahaha iya Ga iya.” Kataku.

                Hari itu, aku dan Anggara bukan lagi sepasang kekasih tetapi kami adalah dua manusia yang ditakdirkan untuk bersahabat. Tidak ada salahnya jika laki-laki dan perempuan bersahabat. Sahabat adalah segalanya, mungkin persahabatanlah yang cocok untukku dengan Anggara. Aku dengan Anggara memang sama-sama ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, tetapi agama yang kami anut itu berbeda. Tuhan memang satu tetapi kita yang tak sama. Aku sayang kamu Anggara.

Karya      : Nisa Hasna